Selasa, 24 November 2015

hujan air mata

Hujan..
Izinkan aku malam ini menangis bersama rintik-rintik air yang kau ciptakan. Aku tak tau apa yg terjadi dengan diriku saat ini. Yang aku tau ini terjadi karena aku takut kehilangan perhatiannya lagi. Saat ini aku merasa dirinya yg aku idam-idamkan ternyata tidak mengidam-ngidamkan diriku. Mungkin memang diriku tidak pantas untuk diidamkan dirinya bahkan orang lain sekalipun.
Yaa tuhan, bawalah kecemasanku, kegelisahan, kegundahan aku ini perpikiran dan persaanku ini bersama hujan yang kau ciptakan. 

Minggu, 18 Oktober 2015

Malamku Kelabu

Saat orang-orang sedang terlelap dan saat ini lah aku masih menangisi hariku yang tak pernah aku harapkan. Tak henti air mata ini membasahi pipiku. Aku tak ingin terus larut dalam kekecewaan yang diciptakan olehnya. Tapi tidak bisa. Entah mengapa kesalahan kesalahan besar itu selalu kuingat. 
Saat diri ini lemas tak berdaya diatas ranjanf rumah sakit, dirinya yang kuharapkan tak mengunjungiku sedetikpun. Bahkan untuk menanyakan kabar ku pun, ah entahlahhh. Katanya dia tidak berani untuk menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Namun saat aku kembali ke rumah, dia tetap tak datang.
Dan saat hari umurku menginjak angka 19 dia sama sekali tak datang mengunjungi ku. Ucapanpun tak keluar dari mulut manisnya.  Mungkin mulut manisnya hanya akan meluarkan kata-kata untuk wanita lain. Yang membuat semuanya semakin kacau saat ucapan kata dari sosial media ataupun bbm itu aku yang meminta langsung. 
Mungkin cuma aku, gadis yang meminta ucapan dari seorang laki-laki yang katanya sih pacarku. Apakah suatu saat aku harus meminta minta darinya? Jangan sampai yaAllah 😢

Hari yang kutunggu tak seperti yang kuharapkan

Hari ini adalah hari yang sangat ku tunggu-tunggu. Hari saat kedua orang tuaku membangunkanku, mengecup kening dan kedua pipiku, serta memberikan ucapan selamat untukku. Hari ini juga hari yang sangat ku tunggu-tunggu karena aku pikir semua orang yg aku sayangi akan memberikanku ucapan dan doa-doa yang indah.
Namun hari ini tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Tak ada ucapan darinya orang yang kuanggap special setelah kedua orang tua dan adikku. Orang itu hanya dapat membuat tubuh ini lemas tak berdaya setelah beradu argumen dengannya. Orang itu pula yang membuat aku bersedih dan meneteskan air mata.
Aku benci air mata ini jatuh di hari ulang tahunku, tapi mengapa aku tak pernah bisa membenci dia yang telah membuatku menangis? Aaaaaaaa... semuanya tidak adil. Yaa tidak adil untukku yang mengharapkan hari bahagia darinya.
Saat ini aku berharap pikiran tentang orang yang selalu membuat aku menangis itu hilang. Tak ada lagi air mata untuk orang yang kemarin dan detik ini membuatku bersedih. Semoga ada seseorang yang benar tulus mau memberikan hati dab perhatiannya untukku.


Terimakasih untukmu yang sudah mampu membuat air mataku terus menetes

Jumat, 07 Agustus 2015

kehadiranku

Tidak ku sangka ternyata hal yang tidak aku harapkan terjadi. Aku tidak pernah diharapkan untuk kembali ke pangkuan mereka. Selama ini aku kembali hanya karena keinginanku untuk kembali. Aku kira aku akan dirindukan. Aku kira aku akan dinantikan. Itu semua hanya perkiraanku saja. Perkiraan yang sekarang jelas meleset sangat jauh dari titik yang aku tuju.
Begitu malunya diri ini. Berharap untuk diharapkan. Diharapkan oleh mereka yang sangat aku harapkan.

Jumat, 24 Juli 2015

Salah!

Menunggumu adalah hal yang tidak aku sukai
Ingin rasanya aku tidak menunggumu
Tidak mengharap untuk kau hubungi diriku
Tidak mengharap dirimu datang membawa berita bahagia
Namun hati kecilku ini tak bisa
Hatiku terus bergejolak
Aku tahu ini bukan gejolak karena aku jatuh cinta
Ini gejolak rasa rinduku padamu
Yaa.. Aku merindukanmu
Aku merindukan sosok pria sepertimu datang menghampiriku, mengingatkanku akan tanggal yang telah mempersatukan kita

Salahkah diriku ini?
Selalu merindukan dan menunggumu disini
Membayangkan tubuh kekarmu terlihat jelas di bola mataku
Dengan wajah dan senyuman yang membuat diriku selalu terpikat dengan dirimu

Salah!
Mungkin kata ini yang akan terucap dari mulutmu
Kata yang akan terucap dengan lantang
"Salah! Jika kau selalu merindukan dan menungguku disini"


Untuk dirimu yang mulai menjauhiku


Minggu, 21 Juni 2015

Rindu Ketulusanmu

Cinta, sayang..
Kata yang selalu terucap dari bibir manismu
Aku sangat mendambakan kata-kata itu
Mendambakan kata cinta dan sayang terucap untukku

Namun saat ini..
Kata sayang dan cintamu tertutup amarah
Kini setiap hari-hari kita dipenuhi amarah
Pagi, siang, sore, malam pertengkaran kecil sering terjadi

Tak ingin rasanya ada hari esok
Jika esok masih akan tercipta amarahmu
Aku tak ingin selalu berada dalam selimut amarahmu
Akupun takut saat kau mengucapkan kata-kata kasar untukku
Cukup!

Kembalilah dengan kasihmu yang tulus
Disini aku mengharapkan kata sayang dan cinta terucap lembut ditelingaku
Tanpa amarah
Tanpa kata-kata kasar yang tak sepantasnya kau ucapkan


Dari seseorang yang kau anggap kekasihmu

Selasa, 02 Juni 2015

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya


Harusnya aku memang tak perlu menghubungimu lagi, jika hanya untuk bertengkar dan memperdebatkan hal-hal tolol yang membuatku memutuskan pergi. Harusnya tak perlu aku membantumu lagi, jika hanya untuk kamu sakiti untuk yang kedua kali. Harusnya sudah sejak dulu kita berpisah, sehingga aku tak merasa terluka sedalam ini.

Kamu menawarkan banyak hal yang seharusnya aku tolak. Aku kira, aku sekuat baja, ternyata aku hanya Hawa yang tertipu dengan bisikan ular berbisa. Kamu hanya orang biasa, tidak punya apa-apa, tak ketemukan sisi menarik dari dirimu. Bodohnya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, perasaan itu pun masih sama meskipun aku berusaha sekuat mungkin untuk menghindarimu.

Sekarang, aku merasa menjadi gadis paling tolol yang tiba-tiba lemah karena tersakiti cinta. Kamu pergi justru di saat aku berharap semua mimpi kita bisa menjadi nyata. Aku kira kamu berbeda dan di otakku telah muncul banyak khayalan yang suatu saat bisa kita abadikan. Telah tergambar jelas bagaimana kelak kita bisa masuk masjid bersama, merapal doa yang sama, dan mengucapkan Aamiin YaRabbalalamiin secara bersama. Aku telah membangun semua mimpi itu meskipun kamu tidak pernah tahu, tapi tiba-tiba kamu remukan semua, kamu hancurkan tanpa pikir panjang, dan kamu meninggalkanku seperti tak terjadi apapun.

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Jadi orang yang sulit untuk bernapas karena tidak tahu  kabarmu. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi perempuan yang diam-diam menangisimu ketika membaca seluruh pesan singkat kita dulu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi orang paling menderita karena merasa dibohongi sejauh ini. Kamu tidak akan pernah tahu dan otak bodohmu itu juga tak akan pernah paham. Perasaan dan hatimu yang telah mati tak akan mungkin mengerti.

Iya, aku yang bodoh, semua salahku, selalu salahku. Aku tidak bisa melupakan berisiknya suara sepeda motormu, kendaraan yang selalu mengantarku pulang hingga depan pagar rumah. Aku tidak bisa lupa caramu memandangku dari kaca spion, bagaimana matamu melirikku dengan ramah. Aku tidak bisa melupakan pelukmu, yang selalu kuanggap rumah untuk pulang. Aku tidak bisa melupakan leluconmu yang sebenarnya tak lucu, namun karena aku sangat mencintaimu, sebisa mungkin aku berusaha tertawa. Aku tidak bisa lupa bagaimana tawamu bisa benar-benar membuatku merasa lega dan tenang. Aku tidak bisa melupakan dialek anehmu saat berbicara, gaya bicaramu yang selalu membuatku rindu. Aku tidak bisa melupakan genggaman erat jemarimu yang entah bagaimana bisa seketika menenangkanku. Aku tidak bisa berhenti untuk menatap pagar rumah, berharap kamu tiba-tiba ada di situ, membawakanku selusin senyuman dan sepotong pelukan.

Aku ini gadis bodoh yang hobinya cuma menangis, bermimpi, menulis, lalu tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan jika hatiku sedang sangat remuk seperti ini. Aku tak tahu apa arti dari semua ini. Apa arti hubungan kita yang berjalan hanya sesaat ini. Apa arti kebohonganmu yang sebenarnya tak bisa dimaafkan tapi selalu berusaha aku maafkan. Aku tak mengerti mengapa sekarang kita masih berkabaran, namun status hubungan kita penuh ketidakjelasan

Aku tak mengerti mengapa pria bodoh sepertimu bisa membuatmu merasa gadis paling gila di dunia. Kamu membuat duniaku jungkir balik, pernapasanku selalu sesak karena lelah menangis, dan mataku selalu kabut karena penuh mendung. Kamu mengubah duniaku jadi berbeda. Aku sudah terbiasa denganmu. Terbiasa dengan pesan singkatmu, terbiasa dengan sapaanmu di ujung telepon, terbiasa dengan pelukmu, terbiasa dengan suara sepeda motormu, terbiasa dengan hadirmu, terbiasa dengan kita. Bagaimana mungkin kamu dan aku, yang sempat menjadi kita, harus kembali berpisah lagi menjadi aku dan kamu, sedangkan aku sangat nyaman menjadi kita?

Kamu tentu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Rasanya jadi gadis yang selalu menatap ponsel hanya karena menunggu kabar darimu. Kamu tak tahu rasanya jadi wanita yang tak tahu apa-apa, namun tiba-tiba dunianya jadi dibikin berbeda karena kehadiranmu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi aku-- yang selalu menunggumu pulang.

Ada banyak mimpi yang belum terwujud bersamamu. Salah satunya adalah aku ingin memelukmu semalaman, tak perlu ada percakapan, memelukmu sudah lebih dari cukup. Aku ingin mendengar degup jantungmu, merasakan degup cinta seperti apa yang ada di dadamu. Jika sudah mewujudkan mimpi yang satu itu, silakan kalau kamu mau pergi. Pergilah, kembali pada Tuhanmu, berhentilah berpura-pura seakan kamu mengenal Tuhanku.

Jumat, 03 April 2015

Hal Yang Sesungguhnya Tidak Diinginkan


Bibir mengatakan iya, sesungguhnya hati mengatakan tidak.
Begitu bodohnya diri ini berbohong.
Berbohong tentang perasaan.
Tak berani mulut ini mengucapkan yg sesunggunya dihadapanmu
Kini aku membiarkan sosokmu
Yang selama ini bersamaku
Pergi bersama angin menginggalkanku
Maafkan aku yang hanya berani mengatakan semua ini, disini.



Dariku yang tidak berguna menurutmu

Sabtu, 07 Maret 2015

Aku tak tahu ini apa

Pagi ini aku kembali memberikan dia kesempatan dan diapun kembali mengecewakan. Sekarang ini aku tak tau harus melakukan apa lagi. Aku hanya dapat menutupi tetesan air mata ini dibalik selimut. Ingin rasanya aku berteriak. Ingin aku mengatakan apa yang aku rasakan langsung dihadapannya. Tapi tidak mungkin. Semuanya hanya akan terpendam dalam hati. Tak mungkin lagi aku berharap dia hadir disini untuk meminta maaf langsung kepadaku. Aku hanyalah bagian dari hidupnya yang tidak penting. Aku hanyalah serpihan yang terselip. Kapanpun dia dapat membuang  diriku jauh jauh. Dari kehidupannya. 

Untukmu yang menganggapku tidak ada.

Kamis, 26 Februari 2015

Bayanganku

Tengah hari yang panas, aku memulai aktifitasku. Menjalankan kewajiban atas apa yang telah aku pilih. Namun hari ini tidaklah seindah apa yang telah aku bayangkan. Aku membayangkan saat pagi membuka mata dirinya menghubunginku, menyenandungkan sebait lagu dengan suaranya, dan menanyakan Apa aktifitasmu hari ini? Dapatkah aku menemani menjalini kewajibanmu? 

Membayangi semua itu membuatku semakin tidak karuan menjalani hari ini. Ingin rasanya teriak menyalurkan kelelahan raga dan kepedihan hati ini. Argggggggh 

YaAllah, kuatkan aku menjalani semua ini sendiri tanpa bayang-bayang dirinya.

Inginku

Petang ini di kamarku yang sunyi, aku hanya dapat termenung diam dan perlahan mulai menulis kata-kata ini. Dengan ditemani lagu yang liriknya seperti ini "Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu jangan tanyakan mengapa karna ku tak tahu. Akupun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku. Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi" aku merenungkan perhatianmu yang perlahan memudar. 

Ku coba mulai menghubungi, terus dan terus aku hubungi nomor ponselmu tetapi tidak aktif. Inikah caramu menanggapi kekecewaan ku yang sudah dari dua hari yang lalu kau abaikan? Tahukah kamu? Aku hanya ingin kamu mengerti, memahami bahwa aku butuh kabar darimu. Jangan biarkan diriku terus menerus menunggumu. Hmmm... Mungkin ini hanya ego wanita yang keras kepala seperti diriku. Tapi itulah yang aku inginkan dan aku butuhkan.

Maaf... Saat ini aku hanya dapat berharap kau mengerti aku meskipun aku tidak mengertimu. 


Pesan dari wanitamu yang egois.

Selasa, 30 September 2014

MIMPI

Mimpi
Dari sini aku berlari mengejarmu
Bersama egoku yang tidak dapat sepenuhnya aku kendalikan
Aku hanya dapat berharap
Berharap mimpi dapat menyambutku
Aku hanya dapat terdiam
Terdiam saat perlahan mimpiku menghilang

Salahkah aku bermimpi?
Ataukah mimpiku terlalu tinggi?
Tapi... Bukankah setiap insan berhak punya mimpi?
Ini semua hanya menjadi tanda tanya

Yaa Tuhan
Izinkanlah aku untuk memiliki mimpi baru
Mimpi yang dapat aku nikmati
Mimpi yang dapat aku banggakan

Kamis, 07 Agustus 2014

Kuawali Dengan Bismillah

Hi malam!
Aku merasa orang-orang lebih beruntung dariku. Orang-orang yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedangkan aku. Oh tidak.. Sudah berkali-kali aku mengecewakan mereka yang aku sayangi. Dari snmptn, sbmptn, STAN, simak UI, smup UNPAD, dan kini aku kembali mengecewakan karena mendapatkan kenyataan aku tidak lolos UM UNDIP. Kegagalan kali ini semakin menguatkan dan meyakinkanku bahwa apa yang kuinginkan tidak selamanya selalu aku dapatkan. 

Mereka meyakinkanku, Allah akan memberikan apa yang hambanya butuhkan bukan apa yang hambanya inginkan. Aku menginginkan masuk fakultas teknik, tapi mungkin bukan itu yang aku butuhkan. Yaa.. Yang aku butuhkan itu mungkin di Universitas Pancasila. Alhamdulillah aku masuk menjadi mahasiswa baru fakultas farmasi di universitas tersebut. Ini merupakan salah satu dari banyaknya cita-citaku di waktu kecil. Menjadi seorang apoteker yang kelak akan meracik obat untuk kedua orang tuaku. 

Bismillah.. Semoga inilah jalan terbaik yang diberikan untukku. Doakan aku yaa semua.. Doakan agar kelak aku tidak selalu mengecewakan kalian orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku...

Minggu, 20 Juli 2014

KECEWA

Waktu itu kamu mengatakan hal yang sangat tidak terduga. Awalnya aku aneh dengan semua itu. Aneh dengan perkataanmu yang menyukai dan nyaman denganku. Namun seiring berjalannya waktu, akupun merasakan hal yang berbeda. Kini setiap hariku selalu terselip ingatan tentangmu. Berharap kamu menghubungiku walau hanya melalui BlackBerry Messenger dan selalu menunggu tulisan "is writing a message" di ponselku. Apa arti semua ini? Apakah aku jatuh hati padamu? Yaa.. Mungkin aku jatuh hati padamu. Padamu yang selalu menanggapi kata-kataku yang menurut orang banyak terlalu puitis dan lebih tepatnya berlebihan. Aku menyadari jika kehadiranmu adalah semangat baru buatku. Kamu telah membuatku melupakan kenangan kelam masa laluku. Dan, kamu tahu apa? Kamu telah berhasil menarikku untuk selalu ingin dan berharap dengamu. 

Tetapi setelah semua ini kamu raih, kamu perlahan pergi meninggalkanku dengan harapan-harapan ini. Tak bisakah kamu memberikan waktu sedikit lebih lama lagi untukku merasakan kenyamananmu? Jika kamu membaca ini semua, pasti kamu akan menjawab "Tak Bisa". Ada sebuah kenyataan yang harus aku sadari. Aku harus menyadari dari orang lain bahwa ternyata, kamu. Kamu menyukai sahabatku sendiri. 

Kenyataan ini membuatku kecewa. Kamu membuatku kecewa. Haruskah aku menangis karena kecewaku ini? Sesungguhnya aku tak ingin mengetahui semua ini. Aku tak ingin mengetahui jika kamu sekarang telah menyukainya. Aku ingin kembali seperti saat aku terjatuh dan kamulah yang membangkitkan aku dari rasa sakit ini. Namun itu mustahil..

Salam sehangat selimut
untukmu yang harus aku lupakan.

Jumat, 04 Juli 2014

Aku Pergi

Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Karena hari ini aku akan bertemu teman-temanku termasuk kamu. Kamu yang terakhir kali aku temui dengan berbagai masalah yang kamu ciptakan. Aku berharap lebih pada hari ini. Berharap kamu datang bergabung bersama kehangatan temanmu dan temanku. Tapi semua ini tinggalah harapan, kamu tidak datang. Aku tidak tahu mengapa kamu tidak datang. Apakah kamu ingin pergi jauh dan berusaha tidak mengenalku? Yaa.. Mungkin itulah satu-satunya alasan yang masuk akal.

Kamu tidak pernah menganggapku ada. Kamu lupakan dan tinggalkan aku begitu saja tanpa rasa bersalah yang mendalam. Aku sadar. Aku bukanlah dia teman kecilmu yang sampai saat ini bersamamu. Aku bukanlah dia yang selalu ada di pikiranmu. Aku hanyalah robot mainanmu yang bisa kamu mainkan saat kamu kesepian dan tinggalkan begitu saja saat dia kembali disisimu.

Cukup sampai disini! Kini robot mainanmu akan pergi. Benar-benar pergi dari kehidupan nyatamu.

Salam semanis lolipop
dari aku yang pernah menyayangimu.

Kamis, 03 Juli 2014

Dreams Of You

Sometimes at night
I can't stop thinking about you
Imagine your face always in the sky
I can't stop imagine your smile
Imagine your warm smile
I can't stop missing of your voice
The sound of your voice full-fill my night

I only can dreaming
The dreams that I dreamed
That all about you
And I want too make you feel
That I will love you until
Till the day I die

Rabu, 02 Juli 2014

Akan Baik Disini, Tanpamu

Butuh waktu lama untukku mengenalmu, namun butuh waktu singkat untukmu menerbangkanku lalu menjatuhkanku. Setelah hati kecilku mulai yakin denganmu. Kamu tega membawaku terbang dengan harapan-harapan dan memberikan sebuah kenyataan pahit. Mengapa kamu melakukan semua ini? Mengapa kamu tidak memberikan waktu sedikit lebih lama dari ini? Setidaknya sampai harapan itu dapat terwujudkan.

Harapan itu tidak akan terwujudkan. Namun masih teringat olehku ucapanmu manis memberi harapan untukku. Terbayang tatapan matamu, kebohongan kecil yang selalu kamu buat dihadapanku, lembut suaramu memanggilku, dan canda tawamu yang terkadang membuatku jengkel. Semua hanya tinggal kenangan. Kenangan yang mungkin hanya aku yang ingat dan kaupun tidak.

Entah kamu yang terlalu pintar bersandiwara ataukah aku yang terlalu bodoh. Dirimu telah berhasil membawaku tersesat dalam jalan yang kamupun tak tau arahnya. Tolong.. Tolong kembalikan aku seperti saat kita tak saling kenal. Aku bahagia telah hadir dalam hari-harimu walaupun hanya sesaat. Dan kini aku tak ingin dirimu selalu hadir dalam mimpi dan hari-hariku.

Jangan kamu jadikan aku sebagai pelarianmu lagi. Sudah cukup lelah untukku melihatmu datang dan pergi begitu saja dari hari-hariku. Kini kamu telah menemukannya. Dan aku akan baik disini baik tanpamu.

Fajar dan Senja

Namaku Senja Permata Dewi, nama pemberian dari ibuku yang bernama “Dewi Lestari”. Aku lahir pada tanggal 18 Oktober 1996, saat senja memudarkan mentari dan menampakkan cahaya jingganya. Aku memiliki sahabat kecil yang lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama denganku. Sahabatku itu benama “Muhammmad Fajar Brotolaras”. Fajar lahir lebih dulu dariku, tepatnya pada saat mentari mulai meninggi dan memerangi alam semesta.

Sampai saat usia kita 12 tahun, fajar harus pindah ke Surabaya bersama kedua orang tuanya. Hanya menangis yang dapat kulakukan saat melihat fajar akan pergi. Dan hanya sebait kata yang fajar ucapkan “Aku pasti pulang kesini, senja. Nanti kita main sama-sama lagi, kita liat fajar meninggi sampai saatnya senja melukiskan warna yang indah”

Bertahun-tahun aku menunggu sahabat kecilku itu kembali. Sampai kini aku menemukan diriku sendiri terjebak dalam penantian. Tak banyak usaha yang telah aku perbuat. Hanya menunggu menunggu dan menunggu yang memaksaku untuk semakin menikmatinya.

Setiap hariku, aku sempatkan untuk berjalan disepajang garis pantai belakang rumahku. Berharap fajar datang membawa gitar kesayangannya dan menyanyikan sebuah lagu tentang sahabat. Tentang sahabat adalah lagu yang kami buat bersama. Aku dan fajar mempunyai rumah pohon yang kami berinama “Rumah P3 (Rumah Pohon Pantai Putih)”. Banyak cerita indah yang kami lakukan disekitar Rumah P3, bermain basket bersama, mengukir nama pada pohon-pohon tua yang besar, membuat istana dari pasir dan memandangi matahari terbenam diufuk sana.

Saat aku pulang dari penantianku sore ini, ibu menyambutku dengan senyum simpul yang sangat indah. Ibu memberikan sepucuk surat berwarna biru, ternyata itu adalah surat dari fajar. Surat itu berisikan
Dear Senja,

Senja, bagaimana kabarmu disana? Aku berharap kamu disana baik-baik saja. Kamu masih ingat sama aku kan? Oh ya, waktu usiaku 12 tahun aku pernah berjanji untuk menemuimu dan aku akan menepatinya. Bulan Oktober 2013 nanti aku bersama keluargaku akan kembali ke Jakarta.
Sampai saat ini aku masih ingat kenangan kita semasa kecil dulu. Aku ingin sekali mengulangi kenangan itu saat aku kembali ke Jakarta nanti. Tunggu aku di rumah pohon pasir putih kita yaa. Ada banyak hal yang mau aku ceritakan ke kamu.

Sahabat kecilmu,
Fajar
Telah sampailah penantianku pada bulan Oktober, bulan dimana fajar menjanjikan untuk kembali ke Jakarta. Sepanjang bulan Oktober ini aku akan menunggumu di Rumah P3. Dikala bosan menerpaku, aku melukis senja yang terpampang jelas dengan warna jingganya. Melalui lukisanku aku melampiaskan kekagumanku terhadap senja dan melalui lukisan yang kubuat aku menghabiskan waktu untuk menunggu fajar. Entah telah berapa lukisan yang ku lukis karena bosan menunggu fajar yang tak datang dan mungkin lukisan ini nantinya akan kupersembahkan untuk sahabatku saat dia kembali.

“Senja, mudah sekali ibu mencarimu nak” Aku hanya menoleh sejenak dan melanjutkan lukisanku
“Kamu gak bosen setiap sore ada disini?” tambah ibu, sembari duduk disampingku
Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan ibuku “Fajar janji mau datang kesini mah, ya kesini bulan oktober ini”
“Tapi kamu bisa nunggu fajar dirumah. Ini ibu dapat surat dari pak pos” jawab mama sembari memberikan supucuk surat untukku
“Dari fajar mah?” jawabku ceria sembari membaca isi surat itu
“Iya. Yasudah ibu pulang, setelah matahari terbenam kamu pulang ya!” perintah mama dan meninggalkan sendiri

Ternyata isi surat itu membuatku terpaksa untuk menghentikan melukis. Melalui surat itu fajar memberi tahu aku bahwa kepulangannya ke Jakarta ditunda, karena orang tuanya harus melanjutkan tugas disana selama setengah bulan lagi. Aku tak tahu harus berapa lama lagi aku menanti dan harus berapa banyak lagi lukisan yang akan aku buat. Sungguh aku sangat merindukan sahabat kecilku. “Ya allah, aku ingin bertemu fajar. Pertemukanlah kami ya allah, ciptakanlah kesenangan aku bersamanya” Ucapku dalam tangis lirih

Jam dinding berdentang menunjuk waktu 12 malam, tepatnya malam saat aku akan berulang tahun ke 17 tahun. Terjaga aku dalam mimpi indahku. Melihat ayah dan ibuku masuk kekamarku membawa kue dengan lilin yang menyala. Sebelum lilin itu aku tiup, aku berdo’a untuk dipertemukan dengan sahabat kecilku. Dan entah mengapa pada hari itu aku ingin sekali untuk pergi kerumah pohon sejak fajar meninggi. Tanpa kanvas dan kuas untukku melukis, aku hanya duduk diatas rumah pohon memandangi pantai didepan mataku.

Tiba-tiba terdengar suara orang menyanyikan lagu tentang sahabat yang membuat hatiku bergetar. Aku belum pernah mendengar suara ini sebelumnya, namun aku yakin itu adalah suara fajar karena hanya aku dan fajarlah yang tahu lagu itu. Segera aku turun menghampiri lelaki bertubuh tinggi, putih bagaikan aktor yang aku idamkan di televisi.

“Fajar aku rindu kamu. Jangan tinggalin aku lagi yaa” tanpa rasa ragu, aku peluk lelaki itu dari belakang dan berkata
“Senja, aku juga rindu sama kamu. Aku enggak akan ninggalin kamu dalam waktu lama lagi” jawab lelaki itu sembari melepaskan pelukanku dan menatap mataku

Digenggamnya tanganku, diajaknya aku berjalan menyusuri garis pantai untuk bercengkrama dan bercerita bersama hingga tiba saatnya cahaya jingga tersenyum menyambut kami kembali.