Selasa, 30 September 2014

MIMPI

Mimpi
Dari sini aku berlari mengejarmu
Bersama egoku yang tidak dapat sepenuhnya aku kendalikan
Aku hanya dapat berharap
Berharap mimpi dapat menyambutku
Aku hanya dapat terdiam
Terdiam saat perlahan mimpiku menghilang

Salahkah aku bermimpi?
Ataukah mimpiku terlalu tinggi?
Tapi... Bukankah setiap insan berhak punya mimpi?
Ini semua hanya menjadi tanda tanya

Yaa Tuhan
Izinkanlah aku untuk memiliki mimpi baru
Mimpi yang dapat aku nikmati
Mimpi yang dapat aku banggakan

Kamis, 07 Agustus 2014

Kuawali Dengan Bismillah

Hi malam!
Aku merasa orang-orang lebih beruntung dariku. Orang-orang yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedangkan aku. Oh tidak.. Sudah berkali-kali aku mengecewakan mereka yang aku sayangi. Dari snmptn, sbmptn, STAN, simak UI, smup UNPAD, dan kini aku kembali mengecewakan karena mendapatkan kenyataan aku tidak lolos UM UNDIP. Kegagalan kali ini semakin menguatkan dan meyakinkanku bahwa apa yang kuinginkan tidak selamanya selalu aku dapatkan. 

Mereka meyakinkanku, Allah akan memberikan apa yang hambanya butuhkan bukan apa yang hambanya inginkan. Aku menginginkan masuk fakultas teknik, tapi mungkin bukan itu yang aku butuhkan. Yaa.. Yang aku butuhkan itu mungkin di Universitas Pancasila. Alhamdulillah aku masuk menjadi mahasiswa baru fakultas farmasi di universitas tersebut. Ini merupakan salah satu dari banyaknya cita-citaku di waktu kecil. Menjadi seorang apoteker yang kelak akan meracik obat untuk kedua orang tuaku. 

Bismillah.. Semoga inilah jalan terbaik yang diberikan untukku. Doakan aku yaa semua.. Doakan agar kelak aku tidak selalu mengecewakan kalian orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku...

Minggu, 20 Juli 2014

KECEWA

Waktu itu kamu mengatakan hal yang sangat tidak terduga. Awalnya aku aneh dengan semua itu. Aneh dengan perkataanmu yang menyukai dan nyaman denganku. Namun seiring berjalannya waktu, akupun merasakan hal yang berbeda. Kini setiap hariku selalu terselip ingatan tentangmu. Berharap kamu menghubungiku walau hanya melalui BlackBerry Messenger dan selalu menunggu tulisan "is writing a message" di ponselku. Apa arti semua ini? Apakah aku jatuh hati padamu? Yaa.. Mungkin aku jatuh hati padamu. Padamu yang selalu menanggapi kata-kataku yang menurut orang banyak terlalu puitis dan lebih tepatnya berlebihan. Aku menyadari jika kehadiranmu adalah semangat baru buatku. Kamu telah membuatku melupakan kenangan kelam masa laluku. Dan, kamu tahu apa? Kamu telah berhasil menarikku untuk selalu ingin dan berharap dengamu. 

Tetapi setelah semua ini kamu raih, kamu perlahan pergi meninggalkanku dengan harapan-harapan ini. Tak bisakah kamu memberikan waktu sedikit lebih lama lagi untukku merasakan kenyamananmu? Jika kamu membaca ini semua, pasti kamu akan menjawab "Tak Bisa". Ada sebuah kenyataan yang harus aku sadari. Aku harus menyadari dari orang lain bahwa ternyata, kamu. Kamu menyukai sahabatku sendiri. 

Kenyataan ini membuatku kecewa. Kamu membuatku kecewa. Haruskah aku menangis karena kecewaku ini? Sesungguhnya aku tak ingin mengetahui semua ini. Aku tak ingin mengetahui jika kamu sekarang telah menyukainya. Aku ingin kembali seperti saat aku terjatuh dan kamulah yang membangkitkan aku dari rasa sakit ini. Namun itu mustahil..

Salam sehangat selimut
untukmu yang harus aku lupakan.

Jumat, 04 Juli 2014

Aku Pergi

Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Karena hari ini aku akan bertemu teman-temanku termasuk kamu. Kamu yang terakhir kali aku temui dengan berbagai masalah yang kamu ciptakan. Aku berharap lebih pada hari ini. Berharap kamu datang bergabung bersama kehangatan temanmu dan temanku. Tapi semua ini tinggalah harapan, kamu tidak datang. Aku tidak tahu mengapa kamu tidak datang. Apakah kamu ingin pergi jauh dan berusaha tidak mengenalku? Yaa.. Mungkin itulah satu-satunya alasan yang masuk akal.

Kamu tidak pernah menganggapku ada. Kamu lupakan dan tinggalkan aku begitu saja tanpa rasa bersalah yang mendalam. Aku sadar. Aku bukanlah dia teman kecilmu yang sampai saat ini bersamamu. Aku bukanlah dia yang selalu ada di pikiranmu. Aku hanyalah robot mainanmu yang bisa kamu mainkan saat kamu kesepian dan tinggalkan begitu saja saat dia kembali disisimu.

Cukup sampai disini! Kini robot mainanmu akan pergi. Benar-benar pergi dari kehidupan nyatamu.

Salam semanis lolipop
dari aku yang pernah menyayangimu.

Kamis, 03 Juli 2014

Dreams Of You

Sometimes at night
I can't stop thinking about you
Imagine your face always in the sky
I can't stop imagine your smile
Imagine your warm smile
I can't stop missing of your voice
The sound of your voice full-fill my night

I only can dreaming
The dreams that I dreamed
That all about you
And I want too make you feel
That I will love you until
Till the day I die

Rabu, 02 Juli 2014

Akan Baik Disini, Tanpamu

Butuh waktu lama untukku mengenalmu, namun butuh waktu singkat untukmu menerbangkanku lalu menjatuhkanku. Setelah hati kecilku mulai yakin denganmu. Kamu tega membawaku terbang dengan harapan-harapan dan memberikan sebuah kenyataan pahit. Mengapa kamu melakukan semua ini? Mengapa kamu tidak memberikan waktu sedikit lebih lama dari ini? Setidaknya sampai harapan itu dapat terwujudkan.

Harapan itu tidak akan terwujudkan. Namun masih teringat olehku ucapanmu manis memberi harapan untukku. Terbayang tatapan matamu, kebohongan kecil yang selalu kamu buat dihadapanku, lembut suaramu memanggilku, dan canda tawamu yang terkadang membuatku jengkel. Semua hanya tinggal kenangan. Kenangan yang mungkin hanya aku yang ingat dan kaupun tidak.

Entah kamu yang terlalu pintar bersandiwara ataukah aku yang terlalu bodoh. Dirimu telah berhasil membawaku tersesat dalam jalan yang kamupun tak tau arahnya. Tolong.. Tolong kembalikan aku seperti saat kita tak saling kenal. Aku bahagia telah hadir dalam hari-harimu walaupun hanya sesaat. Dan kini aku tak ingin dirimu selalu hadir dalam mimpi dan hari-hariku.

Jangan kamu jadikan aku sebagai pelarianmu lagi. Sudah cukup lelah untukku melihatmu datang dan pergi begitu saja dari hari-hariku. Kini kamu telah menemukannya. Dan aku akan baik disini baik tanpamu.

Fajar dan Senja

Namaku Senja Permata Dewi, nama pemberian dari ibuku yang bernama “Dewi Lestari”. Aku lahir pada tanggal 18 Oktober 1996, saat senja memudarkan mentari dan menampakkan cahaya jingganya. Aku memiliki sahabat kecil yang lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama denganku. Sahabatku itu benama “Muhammmad Fajar Brotolaras”. Fajar lahir lebih dulu dariku, tepatnya pada saat mentari mulai meninggi dan memerangi alam semesta.

Sampai saat usia kita 12 tahun, fajar harus pindah ke Surabaya bersama kedua orang tuanya. Hanya menangis yang dapat kulakukan saat melihat fajar akan pergi. Dan hanya sebait kata yang fajar ucapkan “Aku pasti pulang kesini, senja. Nanti kita main sama-sama lagi, kita liat fajar meninggi sampai saatnya senja melukiskan warna yang indah”

Bertahun-tahun aku menunggu sahabat kecilku itu kembali. Sampai kini aku menemukan diriku sendiri terjebak dalam penantian. Tak banyak usaha yang telah aku perbuat. Hanya menunggu menunggu dan menunggu yang memaksaku untuk semakin menikmatinya.

Setiap hariku, aku sempatkan untuk berjalan disepajang garis pantai belakang rumahku. Berharap fajar datang membawa gitar kesayangannya dan menyanyikan sebuah lagu tentang sahabat. Tentang sahabat adalah lagu yang kami buat bersama. Aku dan fajar mempunyai rumah pohon yang kami berinama “Rumah P3 (Rumah Pohon Pantai Putih)”. Banyak cerita indah yang kami lakukan disekitar Rumah P3, bermain basket bersama, mengukir nama pada pohon-pohon tua yang besar, membuat istana dari pasir dan memandangi matahari terbenam diufuk sana.

Saat aku pulang dari penantianku sore ini, ibu menyambutku dengan senyum simpul yang sangat indah. Ibu memberikan sepucuk surat berwarna biru, ternyata itu adalah surat dari fajar. Surat itu berisikan
Dear Senja,

Senja, bagaimana kabarmu disana? Aku berharap kamu disana baik-baik saja. Kamu masih ingat sama aku kan? Oh ya, waktu usiaku 12 tahun aku pernah berjanji untuk menemuimu dan aku akan menepatinya. Bulan Oktober 2013 nanti aku bersama keluargaku akan kembali ke Jakarta.
Sampai saat ini aku masih ingat kenangan kita semasa kecil dulu. Aku ingin sekali mengulangi kenangan itu saat aku kembali ke Jakarta nanti. Tunggu aku di rumah pohon pasir putih kita yaa. Ada banyak hal yang mau aku ceritakan ke kamu.

Sahabat kecilmu,
Fajar
Telah sampailah penantianku pada bulan Oktober, bulan dimana fajar menjanjikan untuk kembali ke Jakarta. Sepanjang bulan Oktober ini aku akan menunggumu di Rumah P3. Dikala bosan menerpaku, aku melukis senja yang terpampang jelas dengan warna jingganya. Melalui lukisanku aku melampiaskan kekagumanku terhadap senja dan melalui lukisan yang kubuat aku menghabiskan waktu untuk menunggu fajar. Entah telah berapa lukisan yang ku lukis karena bosan menunggu fajar yang tak datang dan mungkin lukisan ini nantinya akan kupersembahkan untuk sahabatku saat dia kembali.

“Senja, mudah sekali ibu mencarimu nak” Aku hanya menoleh sejenak dan melanjutkan lukisanku
“Kamu gak bosen setiap sore ada disini?” tambah ibu, sembari duduk disampingku
Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan ibuku “Fajar janji mau datang kesini mah, ya kesini bulan oktober ini”
“Tapi kamu bisa nunggu fajar dirumah. Ini ibu dapat surat dari pak pos” jawab mama sembari memberikan supucuk surat untukku
“Dari fajar mah?” jawabku ceria sembari membaca isi surat itu
“Iya. Yasudah ibu pulang, setelah matahari terbenam kamu pulang ya!” perintah mama dan meninggalkan sendiri

Ternyata isi surat itu membuatku terpaksa untuk menghentikan melukis. Melalui surat itu fajar memberi tahu aku bahwa kepulangannya ke Jakarta ditunda, karena orang tuanya harus melanjutkan tugas disana selama setengah bulan lagi. Aku tak tahu harus berapa lama lagi aku menanti dan harus berapa banyak lagi lukisan yang akan aku buat. Sungguh aku sangat merindukan sahabat kecilku. “Ya allah, aku ingin bertemu fajar. Pertemukanlah kami ya allah, ciptakanlah kesenangan aku bersamanya” Ucapku dalam tangis lirih

Jam dinding berdentang menunjuk waktu 12 malam, tepatnya malam saat aku akan berulang tahun ke 17 tahun. Terjaga aku dalam mimpi indahku. Melihat ayah dan ibuku masuk kekamarku membawa kue dengan lilin yang menyala. Sebelum lilin itu aku tiup, aku berdo’a untuk dipertemukan dengan sahabat kecilku. Dan entah mengapa pada hari itu aku ingin sekali untuk pergi kerumah pohon sejak fajar meninggi. Tanpa kanvas dan kuas untukku melukis, aku hanya duduk diatas rumah pohon memandangi pantai didepan mataku.

Tiba-tiba terdengar suara orang menyanyikan lagu tentang sahabat yang membuat hatiku bergetar. Aku belum pernah mendengar suara ini sebelumnya, namun aku yakin itu adalah suara fajar karena hanya aku dan fajarlah yang tahu lagu itu. Segera aku turun menghampiri lelaki bertubuh tinggi, putih bagaikan aktor yang aku idamkan di televisi.

“Fajar aku rindu kamu. Jangan tinggalin aku lagi yaa” tanpa rasa ragu, aku peluk lelaki itu dari belakang dan berkata
“Senja, aku juga rindu sama kamu. Aku enggak akan ninggalin kamu dalam waktu lama lagi” jawab lelaki itu sembari melepaskan pelukanku dan menatap mataku

Digenggamnya tanganku, diajaknya aku berjalan menyusuri garis pantai untuk bercengkrama dan bercerita bersama hingga tiba saatnya cahaya jingga tersenyum menyambut kami kembali.