Namaku
Senja Permata Dewi, nama pemberian dari ibuku yang bernama “Dewi Lestari”. Aku
lahir pada tanggal 18 Oktober 1996, saat senja memudarkan mentari dan menampakkan
cahaya jingganya. Aku memiliki sahabat kecil yang lahir pada tanggal, bulan dan
tahun yang sama denganku. Sahabatku itu benama “Muhammmad Fajar Brotolaras”.
Fajar lahir lebih dulu dariku, tepatnya pada saat mentari mulai meninggi dan
memerangi alam semesta.
Sampai
saat usia kita 12 tahun, fajar harus pindah ke Surabaya bersama kedua orang
tuanya. Hanya menangis yang dapat kulakukan saat melihat fajar akan pergi. Dan
hanya sebait kata yang fajar ucapkan “Aku pasti pulang kesini, senja. Nanti
kita main sama-sama lagi, kita liat fajar meninggi sampai saatnya senja
melukiskan warna yang indah”
Bertahun-tahun
aku menunggu sahabat kecilku itu kembali. Sampai kini aku menemukan diriku sendiri terjebak
dalam penantian. Tak banyak
usaha yang telah aku perbuat. Hanya menunggu menunggu dan
menunggu yang memaksaku untuk
semakin menikmatinya.
Setiap
hariku, aku sempatkan untuk berjalan disepajang garis pantai belakang rumahku.
Berharap fajar datang membawa gitar kesayangannya dan menyanyikan sebuah lagu
tentang sahabat. Tentang sahabat adalah lagu yang kami buat bersama. Aku dan
fajar mempunyai rumah pohon yang kami berinama “Rumah P3 (Rumah Pohon Pantai
Putih)”. Banyak cerita indah yang kami lakukan disekitar Rumah P3, bermain
basket bersama, mengukir nama pada pohon-pohon tua yang besar, membuat istana
dari pasir dan memandangi matahari terbenam diufuk sana.
Saat
aku pulang dari penantianku sore ini, ibu menyambutku dengan senyum simpul yang
sangat indah. Ibu memberikan sepucuk surat berwarna biru, ternyata itu adalah
surat dari fajar. Surat itu berisikan
Dear Senja,Senja, bagaimana kabarmu disana? Aku berharap kamu disana baik-baik saja. Kamu masih ingat sama aku kan? Oh ya, waktu usiaku 12 tahun aku pernah berjanji untuk menemuimu dan aku akan menepatinya. Bulan Oktober 2013 nanti aku bersama keluargaku akan kembali ke Jakarta.Sampai saat ini aku masih ingat kenangan kita semasa kecil dulu. Aku ingin sekali mengulangi kenangan itu saat aku kembali ke Jakarta nanti. Tunggu aku di rumah pohon pasir putih kita yaa. Ada banyak hal yang mau aku ceritakan ke kamu.Sahabat kecilmu,Fajar
Telah
sampailah penantianku pada bulan Oktober, bulan dimana fajar menjanjikan untuk
kembali ke Jakarta. Sepanjang bulan Oktober ini aku akan menunggumu di Rumah P3.
Dikala bosan menerpaku, aku melukis senja yang terpampang jelas dengan warna
jingganya. Melalui lukisanku aku melampiaskan kekagumanku terhadap senja dan
melalui lukisan yang kubuat aku menghabiskan waktu untuk menunggu fajar. Entah
telah berapa lukisan yang ku lukis karena bosan menunggu fajar yang tak datang
dan mungkin lukisan ini nantinya akan kupersembahkan untuk sahabatku saat dia
kembali.
“Senja,
mudah sekali ibu mencarimu nak” Aku hanya menoleh sejenak dan melanjutkan
lukisanku
“Kamu
gak bosen setiap sore ada disini?” tambah ibu, sembari duduk disampingku
Aku
tersenyum dan menjawab pertanyaan ibuku “Fajar janji mau datang kesini mah, ya
kesini bulan oktober ini”
“Tapi
kamu bisa nunggu fajar dirumah. Ini ibu dapat surat dari pak pos” jawab mama
sembari memberikan supucuk surat untukku
“Dari
fajar mah?” jawabku ceria sembari membaca isi surat itu
“Iya.
Yasudah ibu pulang, setelah matahari terbenam kamu pulang ya!” perintah mama
dan meninggalkan sendiri
Ternyata
isi surat itu membuatku terpaksa untuk menghentikan melukis. Melalui surat itu
fajar memberi tahu aku bahwa kepulangannya ke Jakarta ditunda, karena orang tuanya
harus melanjutkan tugas disana selama setengah bulan lagi. Aku tak tahu harus
berapa lama lagi aku menanti dan harus berapa banyak lagi lukisan yang akan aku
buat. Sungguh aku sangat merindukan sahabat kecilku. “Ya allah, aku ingin
bertemu fajar. Pertemukanlah kami ya allah, ciptakanlah kesenangan aku
bersamanya” Ucapku dalam tangis lirih
Jam
dinding berdentang menunjuk waktu 12 malam, tepatnya malam saat aku akan
berulang tahun ke 17 tahun. Terjaga aku dalam mimpi indahku. Melihat ayah dan
ibuku masuk kekamarku membawa kue dengan lilin yang menyala. Sebelum lilin itu
aku tiup, aku berdo’a untuk dipertemukan dengan sahabat kecilku. Dan entah
mengapa pada hari itu aku ingin sekali untuk pergi kerumah pohon sejak fajar
meninggi. Tanpa kanvas dan kuas untukku melukis, aku hanya duduk diatas rumah
pohon memandangi pantai didepan mataku.
Tiba-tiba
terdengar suara orang menyanyikan lagu tentang sahabat yang membuat hatiku
bergetar. Aku belum pernah mendengar suara ini sebelumnya, namun aku yakin itu
adalah suara fajar karena hanya aku dan fajarlah yang tahu lagu itu. Segera aku
turun menghampiri lelaki bertubuh tinggi, putih bagaikan aktor yang aku idamkan
di televisi.
“Fajar
aku rindu kamu. Jangan tinggalin aku lagi yaa” tanpa rasa ragu, aku peluk
lelaki itu dari belakang dan berkata
“Senja,
aku juga rindu sama kamu. Aku enggak akan ninggalin kamu dalam waktu lama lagi”
jawab lelaki itu sembari melepaskan pelukanku dan menatap mataku
Digenggamnya
tanganku, diajaknya aku berjalan menyusuri garis pantai untuk bercengkrama dan
bercerita bersama hingga tiba saatnya cahaya jingga tersenyum menyambut kami
kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar