Rabu, 02 Juli 2014

Fajar dan Senja

Namaku Senja Permata Dewi, nama pemberian dari ibuku yang bernama “Dewi Lestari”. Aku lahir pada tanggal 18 Oktober 1996, saat senja memudarkan mentari dan menampakkan cahaya jingganya. Aku memiliki sahabat kecil yang lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama denganku. Sahabatku itu benama “Muhammmad Fajar Brotolaras”. Fajar lahir lebih dulu dariku, tepatnya pada saat mentari mulai meninggi dan memerangi alam semesta.

Sampai saat usia kita 12 tahun, fajar harus pindah ke Surabaya bersama kedua orang tuanya. Hanya menangis yang dapat kulakukan saat melihat fajar akan pergi. Dan hanya sebait kata yang fajar ucapkan “Aku pasti pulang kesini, senja. Nanti kita main sama-sama lagi, kita liat fajar meninggi sampai saatnya senja melukiskan warna yang indah”

Bertahun-tahun aku menunggu sahabat kecilku itu kembali. Sampai kini aku menemukan diriku sendiri terjebak dalam penantian. Tak banyak usaha yang telah aku perbuat. Hanya menunggu menunggu dan menunggu yang memaksaku untuk semakin menikmatinya.

Setiap hariku, aku sempatkan untuk berjalan disepajang garis pantai belakang rumahku. Berharap fajar datang membawa gitar kesayangannya dan menyanyikan sebuah lagu tentang sahabat. Tentang sahabat adalah lagu yang kami buat bersama. Aku dan fajar mempunyai rumah pohon yang kami berinama “Rumah P3 (Rumah Pohon Pantai Putih)”. Banyak cerita indah yang kami lakukan disekitar Rumah P3, bermain basket bersama, mengukir nama pada pohon-pohon tua yang besar, membuat istana dari pasir dan memandangi matahari terbenam diufuk sana.

Saat aku pulang dari penantianku sore ini, ibu menyambutku dengan senyum simpul yang sangat indah. Ibu memberikan sepucuk surat berwarna biru, ternyata itu adalah surat dari fajar. Surat itu berisikan
Dear Senja,

Senja, bagaimana kabarmu disana? Aku berharap kamu disana baik-baik saja. Kamu masih ingat sama aku kan? Oh ya, waktu usiaku 12 tahun aku pernah berjanji untuk menemuimu dan aku akan menepatinya. Bulan Oktober 2013 nanti aku bersama keluargaku akan kembali ke Jakarta.
Sampai saat ini aku masih ingat kenangan kita semasa kecil dulu. Aku ingin sekali mengulangi kenangan itu saat aku kembali ke Jakarta nanti. Tunggu aku di rumah pohon pasir putih kita yaa. Ada banyak hal yang mau aku ceritakan ke kamu.

Sahabat kecilmu,
Fajar
Telah sampailah penantianku pada bulan Oktober, bulan dimana fajar menjanjikan untuk kembali ke Jakarta. Sepanjang bulan Oktober ini aku akan menunggumu di Rumah P3. Dikala bosan menerpaku, aku melukis senja yang terpampang jelas dengan warna jingganya. Melalui lukisanku aku melampiaskan kekagumanku terhadap senja dan melalui lukisan yang kubuat aku menghabiskan waktu untuk menunggu fajar. Entah telah berapa lukisan yang ku lukis karena bosan menunggu fajar yang tak datang dan mungkin lukisan ini nantinya akan kupersembahkan untuk sahabatku saat dia kembali.

“Senja, mudah sekali ibu mencarimu nak” Aku hanya menoleh sejenak dan melanjutkan lukisanku
“Kamu gak bosen setiap sore ada disini?” tambah ibu, sembari duduk disampingku
Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan ibuku “Fajar janji mau datang kesini mah, ya kesini bulan oktober ini”
“Tapi kamu bisa nunggu fajar dirumah. Ini ibu dapat surat dari pak pos” jawab mama sembari memberikan supucuk surat untukku
“Dari fajar mah?” jawabku ceria sembari membaca isi surat itu
“Iya. Yasudah ibu pulang, setelah matahari terbenam kamu pulang ya!” perintah mama dan meninggalkan sendiri

Ternyata isi surat itu membuatku terpaksa untuk menghentikan melukis. Melalui surat itu fajar memberi tahu aku bahwa kepulangannya ke Jakarta ditunda, karena orang tuanya harus melanjutkan tugas disana selama setengah bulan lagi. Aku tak tahu harus berapa lama lagi aku menanti dan harus berapa banyak lagi lukisan yang akan aku buat. Sungguh aku sangat merindukan sahabat kecilku. “Ya allah, aku ingin bertemu fajar. Pertemukanlah kami ya allah, ciptakanlah kesenangan aku bersamanya” Ucapku dalam tangis lirih

Jam dinding berdentang menunjuk waktu 12 malam, tepatnya malam saat aku akan berulang tahun ke 17 tahun. Terjaga aku dalam mimpi indahku. Melihat ayah dan ibuku masuk kekamarku membawa kue dengan lilin yang menyala. Sebelum lilin itu aku tiup, aku berdo’a untuk dipertemukan dengan sahabat kecilku. Dan entah mengapa pada hari itu aku ingin sekali untuk pergi kerumah pohon sejak fajar meninggi. Tanpa kanvas dan kuas untukku melukis, aku hanya duduk diatas rumah pohon memandangi pantai didepan mataku.

Tiba-tiba terdengar suara orang menyanyikan lagu tentang sahabat yang membuat hatiku bergetar. Aku belum pernah mendengar suara ini sebelumnya, namun aku yakin itu adalah suara fajar karena hanya aku dan fajarlah yang tahu lagu itu. Segera aku turun menghampiri lelaki bertubuh tinggi, putih bagaikan aktor yang aku idamkan di televisi.

“Fajar aku rindu kamu. Jangan tinggalin aku lagi yaa” tanpa rasa ragu, aku peluk lelaki itu dari belakang dan berkata
“Senja, aku juga rindu sama kamu. Aku enggak akan ninggalin kamu dalam waktu lama lagi” jawab lelaki itu sembari melepaskan pelukanku dan menatap mataku

Digenggamnya tanganku, diajaknya aku berjalan menyusuri garis pantai untuk bercengkrama dan bercerita bersama hingga tiba saatnya cahaya jingga tersenyum menyambut kami kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar