Selasa, 02 Juni 2015

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya


Harusnya aku memang tak perlu menghubungimu lagi, jika hanya untuk bertengkar dan memperdebatkan hal-hal tolol yang membuatku memutuskan pergi. Harusnya tak perlu aku membantumu lagi, jika hanya untuk kamu sakiti untuk yang kedua kali. Harusnya sudah sejak dulu kita berpisah, sehingga aku tak merasa terluka sedalam ini.

Kamu menawarkan banyak hal yang seharusnya aku tolak. Aku kira, aku sekuat baja, ternyata aku hanya Hawa yang tertipu dengan bisikan ular berbisa. Kamu hanya orang biasa, tidak punya apa-apa, tak ketemukan sisi menarik dari dirimu. Bodohnya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, perasaan itu pun masih sama meskipun aku berusaha sekuat mungkin untuk menghindarimu.

Sekarang, aku merasa menjadi gadis paling tolol yang tiba-tiba lemah karena tersakiti cinta. Kamu pergi justru di saat aku berharap semua mimpi kita bisa menjadi nyata. Aku kira kamu berbeda dan di otakku telah muncul banyak khayalan yang suatu saat bisa kita abadikan. Telah tergambar jelas bagaimana kelak kita bisa masuk masjid bersama, merapal doa yang sama, dan mengucapkan Aamiin YaRabbalalamiin secara bersama. Aku telah membangun semua mimpi itu meskipun kamu tidak pernah tahu, tapi tiba-tiba kamu remukan semua, kamu hancurkan tanpa pikir panjang, dan kamu meninggalkanku seperti tak terjadi apapun.

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Jadi orang yang sulit untuk bernapas karena tidak tahu  kabarmu. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi perempuan yang diam-diam menangisimu ketika membaca seluruh pesan singkat kita dulu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi orang paling menderita karena merasa dibohongi sejauh ini. Kamu tidak akan pernah tahu dan otak bodohmu itu juga tak akan pernah paham. Perasaan dan hatimu yang telah mati tak akan mungkin mengerti.

Iya, aku yang bodoh, semua salahku, selalu salahku. Aku tidak bisa melupakan berisiknya suara sepeda motormu, kendaraan yang selalu mengantarku pulang hingga depan pagar rumah. Aku tidak bisa lupa caramu memandangku dari kaca spion, bagaimana matamu melirikku dengan ramah. Aku tidak bisa melupakan pelukmu, yang selalu kuanggap rumah untuk pulang. Aku tidak bisa melupakan leluconmu yang sebenarnya tak lucu, namun karena aku sangat mencintaimu, sebisa mungkin aku berusaha tertawa. Aku tidak bisa lupa bagaimana tawamu bisa benar-benar membuatku merasa lega dan tenang. Aku tidak bisa melupakan dialek anehmu saat berbicara, gaya bicaramu yang selalu membuatku rindu. Aku tidak bisa melupakan genggaman erat jemarimu yang entah bagaimana bisa seketika menenangkanku. Aku tidak bisa berhenti untuk menatap pagar rumah, berharap kamu tiba-tiba ada di situ, membawakanku selusin senyuman dan sepotong pelukan.

Aku ini gadis bodoh yang hobinya cuma menangis, bermimpi, menulis, lalu tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan jika hatiku sedang sangat remuk seperti ini. Aku tak tahu apa arti dari semua ini. Apa arti hubungan kita yang berjalan hanya sesaat ini. Apa arti kebohonganmu yang sebenarnya tak bisa dimaafkan tapi selalu berusaha aku maafkan. Aku tak mengerti mengapa sekarang kita masih berkabaran, namun status hubungan kita penuh ketidakjelasan

Aku tak mengerti mengapa pria bodoh sepertimu bisa membuatmu merasa gadis paling gila di dunia. Kamu membuat duniaku jungkir balik, pernapasanku selalu sesak karena lelah menangis, dan mataku selalu kabut karena penuh mendung. Kamu mengubah duniaku jadi berbeda. Aku sudah terbiasa denganmu. Terbiasa dengan pesan singkatmu, terbiasa dengan sapaanmu di ujung telepon, terbiasa dengan pelukmu, terbiasa dengan suara sepeda motormu, terbiasa dengan hadirmu, terbiasa dengan kita. Bagaimana mungkin kamu dan aku, yang sempat menjadi kita, harus kembali berpisah lagi menjadi aku dan kamu, sedangkan aku sangat nyaman menjadi kita?

Kamu tentu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Rasanya jadi gadis yang selalu menatap ponsel hanya karena menunggu kabar darimu. Kamu tak tahu rasanya jadi wanita yang tak tahu apa-apa, namun tiba-tiba dunianya jadi dibikin berbeda karena kehadiranmu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi aku-- yang selalu menunggumu pulang.

Ada banyak mimpi yang belum terwujud bersamamu. Salah satunya adalah aku ingin memelukmu semalaman, tak perlu ada percakapan, memelukmu sudah lebih dari cukup. Aku ingin mendengar degup jantungmu, merasakan degup cinta seperti apa yang ada di dadamu. Jika sudah mewujudkan mimpi yang satu itu, silakan kalau kamu mau pergi. Pergilah, kembali pada Tuhanmu, berhentilah berpura-pura seakan kamu mengenal Tuhanku.

Jumat, 03 April 2015

Hal Yang Sesungguhnya Tidak Diinginkan


Bibir mengatakan iya, sesungguhnya hati mengatakan tidak.
Begitu bodohnya diri ini berbohong.
Berbohong tentang perasaan.
Tak berani mulut ini mengucapkan yg sesunggunya dihadapanmu
Kini aku membiarkan sosokmu
Yang selama ini bersamaku
Pergi bersama angin menginggalkanku
Maafkan aku yang hanya berani mengatakan semua ini, disini.



Dariku yang tidak berguna menurutmu

Sabtu, 07 Maret 2015

Aku tak tahu ini apa

Pagi ini aku kembali memberikan dia kesempatan dan diapun kembali mengecewakan. Sekarang ini aku tak tau harus melakukan apa lagi. Aku hanya dapat menutupi tetesan air mata ini dibalik selimut. Ingin rasanya aku berteriak. Ingin aku mengatakan apa yang aku rasakan langsung dihadapannya. Tapi tidak mungkin. Semuanya hanya akan terpendam dalam hati. Tak mungkin lagi aku berharap dia hadir disini untuk meminta maaf langsung kepadaku. Aku hanyalah bagian dari hidupnya yang tidak penting. Aku hanyalah serpihan yang terselip. Kapanpun dia dapat membuang  diriku jauh jauh. Dari kehidupannya. 

Untukmu yang menganggapku tidak ada.

Kamis, 26 Februari 2015

Bayanganku

Tengah hari yang panas, aku memulai aktifitasku. Menjalankan kewajiban atas apa yang telah aku pilih. Namun hari ini tidaklah seindah apa yang telah aku bayangkan. Aku membayangkan saat pagi membuka mata dirinya menghubunginku, menyenandungkan sebait lagu dengan suaranya, dan menanyakan Apa aktifitasmu hari ini? Dapatkah aku menemani menjalini kewajibanmu? 

Membayangi semua itu membuatku semakin tidak karuan menjalani hari ini. Ingin rasanya teriak menyalurkan kelelahan raga dan kepedihan hati ini. Argggggggh 

YaAllah, kuatkan aku menjalani semua ini sendiri tanpa bayang-bayang dirinya.

Inginku

Petang ini di kamarku yang sunyi, aku hanya dapat termenung diam dan perlahan mulai menulis kata-kata ini. Dengan ditemani lagu yang liriknya seperti ini "Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu jangan tanyakan mengapa karna ku tak tahu. Akupun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku. Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi" aku merenungkan perhatianmu yang perlahan memudar. 

Ku coba mulai menghubungi, terus dan terus aku hubungi nomor ponselmu tetapi tidak aktif. Inikah caramu menanggapi kekecewaan ku yang sudah dari dua hari yang lalu kau abaikan? Tahukah kamu? Aku hanya ingin kamu mengerti, memahami bahwa aku butuh kabar darimu. Jangan biarkan diriku terus menerus menunggumu. Hmmm... Mungkin ini hanya ego wanita yang keras kepala seperti diriku. Tapi itulah yang aku inginkan dan aku butuhkan.

Maaf... Saat ini aku hanya dapat berharap kau mengerti aku meskipun aku tidak mengertimu. 


Pesan dari wanitamu yang egois.

Selasa, 30 September 2014

MIMPI

Mimpi
Dari sini aku berlari mengejarmu
Bersama egoku yang tidak dapat sepenuhnya aku kendalikan
Aku hanya dapat berharap
Berharap mimpi dapat menyambutku
Aku hanya dapat terdiam
Terdiam saat perlahan mimpiku menghilang

Salahkah aku bermimpi?
Ataukah mimpiku terlalu tinggi?
Tapi... Bukankah setiap insan berhak punya mimpi?
Ini semua hanya menjadi tanda tanya

Yaa Tuhan
Izinkanlah aku untuk memiliki mimpi baru
Mimpi yang dapat aku nikmati
Mimpi yang dapat aku banggakan

Kamis, 07 Agustus 2014

Kuawali Dengan Bismillah

Hi malam!
Aku merasa orang-orang lebih beruntung dariku. Orang-orang yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedangkan aku. Oh tidak.. Sudah berkali-kali aku mengecewakan mereka yang aku sayangi. Dari snmptn, sbmptn, STAN, simak UI, smup UNPAD, dan kini aku kembali mengecewakan karena mendapatkan kenyataan aku tidak lolos UM UNDIP. Kegagalan kali ini semakin menguatkan dan meyakinkanku bahwa apa yang kuinginkan tidak selamanya selalu aku dapatkan. 

Mereka meyakinkanku, Allah akan memberikan apa yang hambanya butuhkan bukan apa yang hambanya inginkan. Aku menginginkan masuk fakultas teknik, tapi mungkin bukan itu yang aku butuhkan. Yaa.. Yang aku butuhkan itu mungkin di Universitas Pancasila. Alhamdulillah aku masuk menjadi mahasiswa baru fakultas farmasi di universitas tersebut. Ini merupakan salah satu dari banyaknya cita-citaku di waktu kecil. Menjadi seorang apoteker yang kelak akan meracik obat untuk kedua orang tuaku. 

Bismillah.. Semoga inilah jalan terbaik yang diberikan untukku. Doakan aku yaa semua.. Doakan agar kelak aku tidak selalu mengecewakan kalian orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku...